Tafsir Isra Mikraj dan Sains Modern

Oleh:   Unknown Unknown   |   Sunday, October 11, 2009
Isra dan Mikraj yang dialami Nabi Muhammad SAW, pada hakikatnya adalah peristiwa ilmu-pengetahuan. Mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya terakhir ini sarat dengan isyarat teknologi dan sains.
Di dalam Al-Qur’an memang ada surat al-Isra (perjalanan), akan tetapi surat ini hanya memberitakan dalam sepotong ayat saja, yaitu di permulaan surat. Walau hanya mengisyaratkan satu ayat, pesan Ilahi ini sungguh penuh makna yang mendalam untuk direfleksikan. Ayat itu berbunyi: “Mahasuci Allah yang membawa berjalan hamba-Nya malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang Kami berkati sekelilingnya. Untuk memperlihatkan kepadanya beberapa tanda (Kebesaran) Kami, Sungguh, Dia-lah yang Maha Mendengar, Yang Maha Melihat”. (Q.S. Al-Isra [17]: 1)

Sebagaimana menjadi karakter kitab suci terakhir ini, setiap memulai kejadian yang menakjubkan selalu didahului kata seru “subhana” (Mahasuci) atau “subhanaka” (Mahasuci Engkau) dan atau “subhanallah” (Mahasuci Allah). Kejadian-kejadian yang menakjubkan para makhluk, khsususnya manusia itu antara lain soal asal-usul dan proses penciptaan makrokosmos maupun mikrokosmos di jagad raya ini. Apabila direnungkan, maka manusia ini tak lebih besar ketimbang debu yang beterbangan. Dan klimaks yang menakjubkan dari semua peristiwa ajaib itu adalah kasus Isra dan Mikraj, mukjizat terbesar yang dialami Nabi seorang diri..


Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan peristiwa yang dialami ini, orang kafir di Mekkah tidak percaya – bahkan yang sudah masuk Islam pun mengingkari berita yang diinformasikan oleh Rasulullah. Orang-orang itu mencoba untuk memahami Isra dan Mikraj dengan tradisi pikir dan nalar jahiliyah. Mereka berpikir, mana mungkin perjalanan Muhammad ke Baitul Makdis (Isra) dapat ditempuh dalam setengah malam. Bahkan dilanjut dalam perjalanan menuju ke langit lapis tujuh (Mikraj) pula. Begitu ekspresi dan respons mereka tatkala menolak kabar yang disampaikan Rasulullah SAW.
Yang dipersoalakan adalah waktu dan ruang. Kendaraan yang tercepat memang kala itu adalah kuda, yang jika mencapai perjalanan dari Mekkah ke Baitul Makdis memerlukan waktu beberapa pekan dengan mengarungi padang sahara yang luas dan penuh tantangan untuk sampai dengan selamat. Sedangkan perjalanan ke langit – apalagi lapis tujuh menuju Sidratul Muntaha adalah gagasan yang tidak pernah terbayangkan. Karena sulit mecerna mukjizat inilah, bahkan yang sudah beriman pun akhirnya menjadi murtad. Mereka gagal karena telah menjadikan rasio (yang memiliki batas ruang dan waktu) itu sebagai satu-satunya sumber pengetahuan untuk memahami Isra dan Mikraj. Sebaliknya Sayidina Abubakar yang sudah mengalami proses internalisasi keimanan, ia memahami peristiwa ini dengan intuisi (rasa iman), sehingga karena kekokohan akidah ini – betapapun Abubakar menerima cerita aneh tadi sepanjang yang mengatakan Nabi Muhammad sendiri: yang selama itu selalu jujur dan tidak pernah berbohong adalah pasti benar apapun yang dikatakannya.
Walaupun orang kafir Quraish mengolok-olok, dengan mengatakan: bagaimana mungkin itu terjadi—bukankah itu tidak sesuai dengan hukum alam dan bertentangan dengan akal (logika). Tapi Abubakar tetap percaya walaupun ia tidak tahu. Kierkegard , tokoh filsafat eksistensialisme berpendapat: bahwa seseorang itu harus percaya bukan lantaran dia tahu – justeru karena ia tak tahu maka percaya.
Sehingga karena imannya itulah, maka Allah memberi apresiasi kepada Abu Guhafah (sebelum namanya diganti Nabi menjadi Abubakar) dengan gelar “al-Shiddiq” (yang selalu membenarkan Nabi). Gelar dari Allah ini dibawa Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada yang bersangkutan. Abubakar adalah teladan mukmin yang memahami fenomena wahyu bukan semata dengan ra’yu (rasio) namun dengan qalbu (intuisi).
Oleh karena itu, jika pemahaman antara ra’yu dan qalbu telah sinkron, maka Habib Ali Al-Habsyi adalah misalnya. Beliau itu seorang sufi tapi mampu menjelaskan persiapan Isra dan Mikraj yang penuh nuansa keilmuan itu dengan secara rasional. Dalam salah satu syairnya di dalam kitab siroh Simthut Durar, tentang hadis belah dada Nabi (sebelum Isra dan Mikraj) itu menyatakan: “Wa akhrajal amlaaku min qalbihi adza, walaakin zaaduhu tuhra ‘ala tuhri” (Malaikat tidak mengeluarkan adza (yang tidak baik) dari dada Nabi, bahkan menambahkan kesucian di atas kesucian). Habib Ali Habsyi memberikan jalan tengah (mengompromikan pemahaman ra’yu dan qalbu) yang lebih jelas atas riwayat hadis yang sering dibawa para muballigh dan sudah populer– dengan menyatakan peristiwa belah dada Nabi itu – untuk mengeluarkan yang tidak baik (adza).
Boleh jadi Malaikat Jibril yang datang sebelum keberangkan Rasul dalam misi Isra dan Mikraj itu melaksanakan tugas persiapan. Yaitu persiapan Nabi yang akan melakukan perjalanan dengan kecepatan cahaya – yang tidak mungkin dilakukan dalam bentuk fisik Nabi (abdihi) yang berbentuk material. Sebab berdasarkan ilmu fisika, yang material itu akan hancur jika harus melebur dalam kecepatan cahaya.
Seperti seorang antariksawan yang akan menjelajah ke bulan, harus dipersiapakan dengan “pakaian khas” untuk adaptasi dengan daya tarik antara planet yang tentu berbeda dengan di bumi. Demikian pula perjalanan non materi yang menggunakan kecepatan cahaya – seperti dilakukan oleh Nabi dengan “kendaraan” buraq (yang berarti kilat atau cahaya).
Hadis belah dada ini adalah momen awal yang penting sebelum Nabi diberangkatkan dalam missi Isra dan Mikraj itu. Berdasarkan tafsiran melalui ilmu fisika, partikel-partikel material tubuh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa “belah dada” tersebut memang dibelah dadanya menjadi atom, sub atom, elektron dan proton secara berturut-turut dalam proses nihilisasi sehingga menjadi partikel foton. Sedangkan foton ini tak bisa dibelah lagi karena “menyatu” dengan cahaya, maka kecepatan perjalanan mukjizat Nabi ini memungkinkan terjadi dengan menggunakan kecepatan cahaya.
Berbeda dengan ukuran waktu duniawi, kecepatan cahaya tentu saja tidak berlaku dan sesuai dengan ukuran waktu manusia. Adapun buraq yang membawa Nabi itu adalah boleh jadi bagaikan tabung khusus yang mengubah material menjadi cahaya tadi. Hal ini dapat kita lihat dalam film-film impian para pakar teknologi dan sains modern, seperti Startek – meski khayal namun mendekati teori pengetahuan karena ada dasar-asar ilmiahnya. Misalnya diperlihatkan, bagaimana tatkala Mr. Spock (dalam sebuah film itu) masuk ke tabung kemudian mendadak lebur dan berubah jadi cahaya lalu melesat dalam sekejap). Tidak ada yang aneh sesungguhnya bila segala sesuatu itu dapat dijelaskan. Bak kata sebuah pepatah Arab: “Idza ‘urifa al-sabab batal al-‘ajab” (Jika dijelaskan sebabnya, maka gugurlah keajaibannya).
Selama empatbelas abad lamanya, peristiwa Isra dan Mikraj ini tidak saja menjadi bahan diskusi dan kajian menarik di kalangan umat Islam sendiri, tetapi telah pula mengilhami para pemikir non Muslim. Dante umpama, karya-karyanya dikatakan telah dipengaruhi oleh peristiwa mukjizat agung Nabi ini. Di dalam episode-episode drama yang disusunnya ada pengaruh Isra dan Mikraj, padahal di sisi lain ia sangat mengutuk Nabi SAW. Tidak mustahil, Isra dan Mikraj ini juga memberi inspirasi para saintis dan ahli fisika di dalam mengembangkan keilmuannya, secara diam-diam terpengaruh meskipun secara jujur tidak diakuinya.
Hikmah Isra dan Mikraj sebenarnya, selain memberikan sumbangan yang amat berharga terhadap tuntunan ritual spiritual, juga sangat berguna lantaran sarat dengan isyarat ilmu pengetahuan – yang bagi umat manusia sangat penting dijadikan inspirasi untuk pengembangan sains dan teknologi. Perjalanan monumental yang dialami oleh Rasulullah hakikatnya adalah tonggak penting bagi umat Islam untuk melakukan perubahan di segala bidang: mental maupun fisik! (Mohammad Baharun) Pernah dimuat di majalah AlKisah.