Sifat Kasih Khalifah Umar

Oleh:   Unknown Unknown   |   Sunday, November 08, 2009
Aslam berkata: “Suatu hari kami keluar bersama Khalifah Umar RA menuju kota Hurrah. Dan ketika kami sampai di Shirâr, Kami melihat api menyala. Kemudian Khalifah Umar berkata: “Wahai Aslam! Aku melihat ada beberapa pengendara yang kemalaman dan kedinginan, mari kita ke sana”. Kami turun dan bergegas mendekati mereka. Ternyata mereka adalah seorang perempuan bersama beberapa anaknya. Perempuan itu sedang meletakkan sebuah panci di atas api. Sementara anak-anaknya merintih kelaparan.



Kemudian Umar berkata: “Assalamau’alaikum wahai orang yang menyalakan cahaya–dia tidak ingin mengatakan “menyalakan api”. Wanita tersebut menjawab: “wa’alaikumussalam”. Dan dia berkata lagi: “Bolehkah aku mendekat?. Wanita tadi menjawab: “Jika engkau berniat baik, mendekatlah, dan setelah itu pergilah segera!”. Kemudian dia mendekatinya dan berkata: “Apa yang terjadi pada kalian?”. Wanita itu berkata; “Kami tidak punya tempat untuk bermalam dan kami kedinginan”. Khalifah Umar berkata lagi: “Lalu apa yang terjadi dengan anak-anakmu, mengapa mereka merintih?”. Dia menjawab: “Mereka lapar”. Khalifah Umar bertanya: “Apa yang ada dalam panci itu?”. wanita tadi menjawab: “Itu hanyalah air yang aku masak (seakan-akan dia memasak makanan) untuk menenangkan mereka hingga mereka tertidur”. Ketika itu Khalifah Umar langsung berkata: “Semoga Allah memberi kasih sayang kepada kalian. Apakah Khalifah Umar tidak mengetahuinya?”.
Wanita itu menjawab: “Umar memang pemimpin kami, akan tetapi dia tidak mengetahui keadaan orang-orang seperti kami”. Kemudian Umar berpaling ke arahku (Aslam) dan berkata: “Mari kita pergi!”. Kami keluar dan bergegas menuju gudang penyimpanan terigu. Khalifah Umar mengeluarkan satu keranjang terigu dan seukuran minyak samin (miyak khas yang selalu dipakai orang arab untuk menambah aroma). Lalu dia berkata (kepadaku): “Bawalah ini atas namaku!”. Aku berkata: “Kalau begitu, aku akan mendapat pahala dari makanan ini”. Dia berkata lagi: “Engkau kira engkau akan mendapat pahala dari perbuatan baikku di hari kiamat nanti? Sungguh engkau tidak akan menanggung beban pahala maupun dosa siapapun”. Setelah itu aku membawanya, dan kami pergi bergegas menuju wanita tadi. Kemudian dia memberikannya kepada wanita itu dan mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung terigu. Lalu dia berkata: “Ambillah minyak samin ini!”.
Kemudian Khalifah Umar meniup Api di bawah panci sehingga asap mengepul dari sela-sela jenggotnya yang lebat. Dia juga memasak terigu dan minyak samin itu untuk mereka. Setelah itu dia mengangkatnya dan meletakkanya di atas sebuah piring seraya berkata: “Berilah mereka (anak-anakmu) makan!”. Kemudian aku mendinginkan makanan itu. Khalifah Umar tidak beranjak dari tempat itu sehingga memastikan mereka kenyang. Lalu wanita itu berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan”.
Peristiwa itu mendapat perhatian yang sangat besar dari Amîrulmu’minin. Dan kejadian-kejadian seperti itu banyak sekali kita temui dalam sejarah hidup khalifah Umar. Kejadian-kejadian tersebut bukan hanya disebabkan oleh rasa loyalitas yang sangat besar yang dimiliki Umar. Dan juga bukan karena Umar memiliki rasa kasih sayang yang sangat besar. Karena pada dasarnya rasa loyalitas itu lahir dari rasa kasih sayang. Dan bukan rasa kasih sayang yang melahirkan loyalitas.
Khalifah Umar melakukan itu, karena jiwa yang bergerak untuk memenuhi perintah langit itu adalah jiwa yang memiliki potensi kebaikan dan kecenderungan untuk itu. Dia melakukan itu bukan karena takut akan azab yang akan dijatuhkan oleh penguasa langit (Allah). Dia melakukan itu karena dia bisa berempati atas keadaaan orang-orang yang terzhalimi. Dan sebaliknya, beliau juga tidak segan-segan memberikan hukuman bagi orang-orang yang enggan menunaikan kewajiban agamanya. Beliau tidak memberikan dispensasi menyangkut hal itu.
Misalnya, ketika dia melihat seorang laki-laki tua yang buta dan meminta-minta. Dan Setelah dia mengetahui bahwa laki-laki itu adalah seorang Yahudi, dia berkata: “Apa yang membuatmu datang kesini?”. Dia menjawab: “Aku ke sini untuk meminta upeti, karena kebutuhanku dan usiaku”. Kemudian Umar mengandeng tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya. Dia memberi apa yang dimintanya secukupnya. Setelah itu dia mengantarkannya ke bait mâl dan berkata: “Lihatlah laki-laki ini dan teman-teman senasibnya. Demi Tuhan, kita telah memenuhi haknya. Kita juga telah memberi makan anak-anak mereka. Akan tetapi dia telah renta. Firman Alalh “Sesungguhnya sadaqah itu untuk orang-orang fakir dan miskin”, dan yang dimaksud dengan orang-orang miskin disini adalah orang-orang miskin dari kaum muslim. Sedangkan laki-laki ini adalah orang miskin dari ahlul kitab”. Kemudian dia memberinya upeti dari pajak yang tarik dari orang-orang ahlul kitab. Disini empati dan rasa kasih sayang yang berperan. Dia tahu bagaimana mentaati ajaran agama. Dan tentu saja dalam kasus ini Agama tidak akan menunjukkan perbuatan yang tidak adil, karena agama islam sangat toleran dan penuh kasih sayang.
Khalifah Umar juga membuat undang-undang yang memberikan santunan untuk setiap anak jalanan sebesar 100 dirham dari bait mâl. Ketentuan ini juga berlaku-bagi anak-anak dari pasangan suami istri yang sah. Ini adalah bentuk kasih sayang yang bertujuan untuk menghindari zina dan dampak buruk yang dihasilkannya dari orang-orang yang melanggar perintah agama dan tidak diterima oeleh masyarakat. Beliau menyayangi seluruh makhluk hidup bahkan beliau memanggil orang-orang yang berada dalam kesulitan tetapi tidak menceritakan keluhannya.
Diriwayatkan dari al-Musayyab bin Darâm bahwasanya beliau melihat dia memukul seseorang dan setelah itu mengusirnya karena dia telah mengendarai ontanya yang lemah. Dia mengusapkan tangannya pada luka di tubuh onta itu untuk mengobatinya. Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya aku mengkhawatirkan tanggung-jawab yang akan dituntut dariku atas kejadian yang menimpamu (unta)”. Yang beliau maksud dengan perkataan ini adalah: “Jika saja ada anak seekor kambing yang mati di tepi sungai Efrat, maka aku takut Allah akan menghisab Umar”. Kalimat ini adalah ungkapan dari rasa tanggung-jawabnya yang sangat besar.
Dan semua itu disebabkan karena rasa tanggung jawab seorang pemimpin bersumber dari sifat kasih sayangnya. (Disarikan dari karya Musthafa Murad).