Kesalahpahaman Dalam Kebencian

Oleh:   Unknown Unknown   |   Sunday, October 11, 2009
Oleh: Prof. DR. Mohammad Baharun, SH. MA
Meskipun di satu sisi, perkembangan dakwah Islam di Amerika Seikat (AS) dan negeri-negeri di Barat cukup menggembirakan, ternyata upaya untuk memperburuk citra Islam di sana terus berlangsung. Seperti yang terdengar, kabarnya bahwa di AS, Islam dan Muslimin masih dikaitkan dengan terorisme, radikalisme dan anti-kemajuan. Lobby Zionisme Internasional yang menguat di sana agaknya makin memperburuk isu tersebut. Sementara, “serangan balik” untuk merehabilitasi tidak mendapatkan tempat selayaknya di media informasi yang ada. Sehingga dari waktu ke waktu, rakyat AS sampai kini -- mayoritas mereka masih beranggapan seperti berita yang tersiar -- mealui pers mereka yang selalu cenderung tendensius terhadap Islam dan Kaum Muslimin.

Itulah yang pernah membuat Dr. Rana Kabbani (Cendekiawan asal Syria) sempat resah, harus memilih yang mana dalam menghadapi Barat: assimilasi ataukah konfrontasi. Dalam bukunya berjudul “Catatan Seorang Muslimat: menggugat kesalahpahaman Barat” (Grafiti, 1992). Hal tersebut tertulis, misalnya soal ungkapan Conor Cruise O’Brien yang sarkastis menyatakan, dengan menyebut bahwa masyarakat Islam sedang sakit dan telah lama sakit.

Tampaknya tidak ada keraguan lagi bahwa sejarah panjang pencemaran dan cemoohan yang ditanamkan oleh Bapak Gereja, Ksatria Perang Salib, ahli teologia, pelancong, cendekiawan Orientalis, dan novelis kontemporer merupakan penghambat utama pengertian toleransi.
Diceritakan, betapa seorang pemandu wisata di Yugoslavia gemetar emosinya tatkala menceritakan kekalahan bangsanya – yang berarti kekalahan umat Nasrani juga – oleh bangsa Turki pada hari St. Vitus, 1389. Enam ratus tahun sesudah kalah perang itu, satu juta orang Serbia pergi ke Kosovo untuk mengikrarkan tekad mematuhi pesan kristiani guna melawan musuh dari “Timur” (yakni Muslimin Bosnia Herzegovina itu). Dan itu belakangan dinyatakan tidak dalam sikap permusuhan, melainkan dalam suatu pembantaian besar-besaran rakyat Bosnia.
Warisan prasangka dan ketidakpedulian menyebabkan John dari Damaskus (meninggal 754) yang ahli polemik, memanfaatkan lisan dan tulisannya untuk menghina Nabi Muhammad dan al-Qur’an (sebelum Salman Rusdhie di Inggris melakukannya). Ia berbuat seperti itu karena melihat kilatan cepat Islam yang segera berkobar dan merasa harus distop.
Sehingga dengan demikian terciptalah anggapan bahwa Muhammad anti-Kristus yang kemudian jadi seruan untuk Perang Salib. Memang kemenangan Perang Salib I meyakinkan prasangka ini, hingga Paus Innosensius III (1213) mengatakan bahwa Muhammad itu “gambaran perlambang dalam kitab Wahyu”.
Begitulah ungkapan kasar dan tak senonoh dalam polemik teologia abad pertengahan -- yang mudah dipahami bila kemudian mewariskan generasi berikutnya bentuk-bentuk pengamatan dan penelitian Islam terselubung yang bermaksud busuk untuk memojokkan Islam. Dengan maksud mungkin agar agama ini dapat ditahan arus perluasannya ke mana-mana. Terutama di negeri-negeri Barat, yang di sisi lain kita maklumi telah mengalami problem tersendiri, misalnya tak lain adalah kemelut yang sedang melilitnya berupa “krisis moral dan spiritual” itu.
Untuk itu kemudian, sebagian cendekiawan Barat yang phobia Islam menyebut Kaum Muslimin sebagai pengikut Muhammad dan Islam dikatakan sebagai Mohammedanism (Faham Muhammad). Mereka yang gagal membuktikan ‘kelemahan’ kitab suci al-Qur’an, mencoba mengkritik habis-habisan pribadi Nabi terakhir itu dari berbagai sisi – dengan mengambil sumber-sumber yang tak absah (seperti kisah Israiliyat) hingga menampilkan ungkapan yang salah terhadap Rasulullah.
Bahkan pernah juga, Profesor Samuel Huntington dalam kancah pers AS telah menuangkan pendapatnya, bahwa Islam merupakan musuh utama Barat di masa depan. Diakui atau tidak, pernyataan provokatif ini tidak makin mendekatkan Islam ke Barat – malah akan menjauhkan pandangan dan citra Islam di AS khusunya dan di Barat umumnya – yang sudah berabad-abad menilai secara keliru agama samawi terakhir ini.
Pasca perang dingin, dinding-dinding Uni Sovyet (dan sejumlah negara Komunis pro Moskow) memang sudah diruntuhkan. Agaknya kini yang jadi ‘sasaran’ bidik AS tak lain adalah negara-negara Muslim – dan merupakan ancaman yang dianggap akan membahayakan kepentingan Barat. Untuk itu barangkali pakar ketimuran (termasuk yang “paling baru” seperti Huntington yang guru besar Ilmu Politik Harvard University di AS itu) belakangan seolah “menghalalkan segala cara” untuk mempengaruhi dunia dengan menciptakan citra buruk terhadap Islam.
Hal-hal itulah yang tampaknya akan berlangsung terus sampai saatnya “perlawanan” terhadap penjajahan alam pikiran “Timur” (baca: Islam) melalui brain washing (cuci otak) cendekiawan kita dan kajian-kajian subjektif dan tendensius itu mengalami titik bidik yang setanding.
Karya-karya mereka inilah yang kemudian dijadikan acuan oleh missionaris untuk menyerang Islam di sini sebagai kedok untuk memuluskan proyek kristenisasi. Bagaimana mungkin toleransi antar umat beragama dapat ditegakkan di atas kebencian terhadap Muslim? (Pernah dimuat di Majalah Cahaya Nabawiy Edisi 53)