Prinsip Semua Agama Samawi Sama (bag.1)

Oleh:   Unknown Unknown   |   Sunday, October 11, 2009
Syariat Islam yang diturunkan Allah kepada umat manusia adalah satu, dan risalah yang diembankan kepada para nabi itu bersifat abadi tanpa batas waktu. Akar risalah ini merentang bahkan sampai leluhur se¬genap manusia, yaitu Nabi Adam, sementara cabang-¬cabangnya akan bertemu dengan manusia terakhir ber¬samaan dengan terjadinya Hari Kiamat ketika manu¬sia dihadapkan kepada Tuhan semesta alam. Jika Na¬bi Muhammad saw. adalah penutup para nabi dan rasul, maka risalah yang beliau bawa akan tetap ber¬laku sepanjang masa—sejak dahulu hingga sekarang dan bahkan sampai Hari Kiamat nanti. Panji risalah abadi ini akan terus dijunjung tinggi-tinggi oleh para khalifah beliau dan kemudian dilanjutkan oleh para ulama dari umat beliau, generasi demi generasi dan abad demi abad. Allah mensyariatkan untuk umat manusia satu agama yang substansi dan prinsip-prinsip ajarannya tidak pernah berubah, meski nabi yang mengembannya datang silih berganti dan rasul yang menyampai¬kannya berbeda.

Agama ini tidak berubah walau de¬ngan bergantinya zaman. Asas dan doktrin utamanya tetaplah sama, yakni tauhid atau mengesakan Allah (tauhid) dan melaksakan ibadah dengan ikhlas semata-¬mata demi mencari keridhaan Allah. Sementara itu, pilar-pilar utamanya adalah menegakkan keadilan se¬cara merata di antara semua lapisan masyarakat, meng¬atur hubungan individu dengan kelompok, dan mem¬bma kepribadian religius yang mesti mewarnai seluruh kehidupan manusia. Agama ini juga menjadi sebuah undang-undang yang mengatur kehidupan manusia, memberikan penugasan, memantau perbuatan mere¬ka, dan bahkan mengevaluasinya. Begitulah agama yang dibawa para nabi seluruhnya—sejak nabi pertama yang menjadi leluhur mereka, Nabi Adam, hingga nabi ter¬akhir, Nabi Muhammad bin Abdullah. Para nabi dan rasul bagaikan pohon-pohon rindang yang disiapkan Allah untuk menaungi umat manusia dan mengem¬balikan mereka kepada Tuhan. Dengan demikian, di¬harapkan bahwa mereka bisa hidup sejahtera dan nya¬man di bawah lindungan dan naungan itu. Bahkan, mereka bagaikan menara-menara yang memancarkan cahaya sangat terang yang menampakkan bendera-¬bendera kebenaran dan menyingkap rahasia-rahasia Ilahi yang masih terpendam. Selain itu, mereka me¬nempatkan mata dan hati manusia di jalan yang penuh petunjuk Ilahi dan sarat dengan cahaya agamaNya.
Bahwa seluruh agama samawi sama dalam aspek substansi dan pokok-pokok ajarannya telah diisyarat¬kan dengan tegas sekali oleh Alquran, sebagaimana disebut¬kan dalam. firman Allah berikut ini: Dia telah mensyanatkan bagi kalian tentang agama apa yang telah diwasiat¬kan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibra¬him, Musa, dan Isa, yakni: tegakkanlah agama dan jangan¬lah kalian berpecah-belah tentangnya. Terasa amat berat bagi orang-orang Musyrik agama yang engkau seru mereka ke¬padanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang di¬kehendaki-Nya dan nwmberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya) (QS 42:13).
Dalam ayat Alquran lainnya, Allah juga berfirman: Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Ka¬mi telah memberikan wahyu kepada Nuh dan kepada nabi-¬nabi sesudahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismaill, Ishaq, Ya'qub, dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami beri¬kan Zabur kepada Dawud. Dan (Kami telah mengutus) ra¬sul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasull-rasul yangtidak Kami kisah¬kan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesu¬dah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS 4:163-165).
Karenanya, kita dapat menyimpulkan bahwa, dari sisi kandungan utama berupa prinsip-prinsip utama agama dan inti akhlak, seluruh kitab agama samawi adalah sama. Bahkan, semua agama samawi dapat di¬umpamakan sebagai sebuah kitab yang bab-babnya ba¬nyak, tetapi ide utama dan maksudnya sama. Gaya bahasa dan cara penuturannya berbeda dalam pasal-pa¬salnya, tetapi tujuan dan maknanya sama. Mungkin seperti inilah yang dapat dipahami dari Alquran ketika berbicara tentang agama secara umum. Allah berfir¬man: Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya dan di akhirat nanti ia termasuk orang-orang yang rugi" (QS 3:85). Alquran juga menyebutkan wasiat Nabi Ibrahim kepa¬da putra-putranya: Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucap¬an itu kepada anak-anaknya,- demikian pula Yaqub. (Ibra¬him berkata), "Wahai anak-anakku, sesunggulinya Allah te¬lah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu seka¬lian mati kecuall dalam memeluk Islam" (QS 2:132).
Oleh sebab itu, Islam adalah agama yang murni (ad-din al¬khalish) yang mengajak manusia untuk menyembah Allah, tunduk pada perintah-Nya, taat pada seruan¬Nya, dan bertakwa kepada-Nya, sekalipun nabi-nabi yang diutus berbeda dan juru dakwah yang melan¬jutkan risalah mereka pun banyak sekali serta beragam cara menyampaikannya.
Alquran sudah banyak bertutur tentang para nabi terdahulu sambil menyebutkan prinsip-prinsip utama yang menjadi landasan dakwah mereka. Bahkan, Al¬quran pun mengungkapkan kitab-kitab yang diturun¬kan Allah kepada mereka. Di antara kitab-kitab wahyu itu, yang terpenting adalah Taurat dan Injil—kedua¬nya diturunkan kepada Nabi Musa dan Nabi `Isa. Se¬bab, agama Kristen dan Yahudi adalah dua agama sa¬mawi sebelum kehadiran agama Islam. Sekiranya tidak ada pertentangan dan konflik dahsyat di antara kedua agama itu, tidak ada kerusakan dan kerancuan di da¬lamnya, dan tidak terjadi penyimpangan dan penye¬lewengan dalam kedua kitab agama itu—yang sam¬pai menyentuh inti ajarannya serta ada keyakinan bah¬wa Allah mempunyai anak; nabi diangkat sebagai tu¬han; dan tuhan diyakini sebagai satu tetapi terdiri atas tiga oknum—dan sekiranya bukan karena hal-hal ne¬gatif seperti ini, tentulah kedua agama itu akan me¬nyatu dan menjadi satu agama. Kemudian, kedua aga¬ma itu, Kristen dan Yahudi, akan bertemu dengan Is¬lam, agama yang lurus. Bahkan, kedua agama itu akan bernaung di bawah panji Islam. Dan, pada akhirnya, tidak ada agama selain Islam—agama Allah yang mur¬ni dan diridhai-Nya, yang disyariatkan-Nya untuk ke¬sejahteraan umat manusia dan menyelamatkan dunia dari kehancuran dan bencana.
Karena kehendak Allah sajalah agama Nabi saw, yakni Islam, dijadikan sebagai agama bagi semesta alam. Allah bahkan telah mengambil janji kepada para nabi untuk mengimani Nabi saw. bila sudah datang di hadapan mereka. Mengapa demikian? Sebab, beliau datang untuk menyempumakan risalah para nabi se¬belumnya dan membenarkannya. Ini berarti suatu pe¬ringatan dari Allah kepada segenap umat manusia dan seluruh bangsa di dunia, yang akan hidup di zaman Nabi saw., untuk mengimani dan meyakini beliau se¬bagai nabi dan rasul yang diutus oleh Allah. Sebab, dak¬wah yang diemban Nabi saw. adalah juga dakwah yang mengajak manusia kepada kebenaran yang tidak dili¬puti kebatilan. Bahkan, dakwah yang dibawa Nabi saw bersifat universal, berlaku untuk segenap umat manu¬sia di seluruh dunia, dan bersifat abadi sampai langit
terbelah, bintang-bintang berjatuhan, dan bumi digan¬ti dengan bumi lain, dan demikian pula langit. Dalam hubungan ini, Allah berfirman: Dan (ingatlah) kettka Allah mengambil perjanjian dari pars nabi, "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hik¬mtah, kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman, 'Apakah kahan mengakui dan menerima perjanjian-Ku atas yang demikian itu?" Mereka menjawab, "Kami' mengakui. "Allah berfirman, "Kalau begitu saksikan¬lah (hai para nabi) dan Aku menjadl saksi (pula) bersama kahan " (QS 3:81).
Allah pun memberitahukan kepada para nabi da¬lam kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada mereka tentang kemuliaan Nabi saw. yang akan datang, de¬ngan menyebutkan berbagai karakteristik dan tanda spesifiknya untuk menghilangkan keraguan dan me¬nunjukkan jalan kebenaran. Dalam hal ini, Allah ber¬firman: (Yakni) orang-orang yang mengikuit rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapatz tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyeru me¬reka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, dan menghalalkan bagi me¬reka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu, yang membelut mereka. Maka, orang-orang yang beriman kepadanya pun memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturun¬kan kepadanya (Alquran). Mereka itulah yang beruntung (QS 7:157). Bersambung