Perbedaan Penellitian Kualitatif dan Kuantitatif I

Oleh:   Admin Admin   |   Monday, April 14, 2014

Pemahaman terhadap perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif akan menghantar peneliti pada kejelasan terhadap masalah yang hendak diteliti. Berikut dijabarkan beberapa pendapat para ahli tentang perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif, sebagai berikut.
1.        Menurut Nasution (1988)
Nasution (dalam Imron Arifin, 1996) mengemukakan perbandingan antara penelitian kualitatif dengan kuantitatif dengan melihat pada landasan filosofi yang mendasari kedua pendekatan yaitu positivisme/kuantitatif dan post-positivisme/kualitatif sebagai berikut:
a.         Penelitian kuantitaf hanya mempelajari permukaan masalah atau bagian luarnya sedangkan penelitian kualitatif  berupaya memperoleh gambaran yang lebih mendalam. Gambaran yang lebih mendalam didapatkan dengan pemahaman makna melalui wawancara mendalam atau observasi partisipan.
b.        Penelitian kuantitatif bersifat atomistik, memecahkan masalah kenyataan dalam bagian-bagian, mencari hubungan antara variable yang terbatas sementara penelitian kualitatif  memandang peristiwa secara keseluruhan dalam konteksnya dan memcoba memperoleh gambaran yang holistik. Peristiwa atau kejadian yang diteliti dengan metode kualitatif adalah menyeluruh atau tidak merupakan bagian-bagian.
c.         Penelitian kuantitatif bertujuan mencari generalisasi guna meramalkan atau memprediksi sedangkan penelitian kualitatif memahami makna (meaning) atau verstehen. Makna adalah pengungkapan asumsi-asumsi yang dimiliki seseorang mengenai hidupnya. Pengungkapan makna paling esensial dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik verstehen untuk menafsirkan makna (Imron Arifin, 1996).  Verstehen merupakan cara menafsirkan makna secara holistik berdasarkan konteks (Imron Arifin, 1996).
d.        Penelitian kuantitatif bersifat deterministik tertuju kepada kepastian dengan menguji hipotesis versus penelitian kualitatif memandang hasil penelitian sebagai spekulatif. Penelitian kuantitatif berkaitan dengan pengumpulan, analisis dan interpretasi data sudah ditentukan sebelumnya, dengan pertanyaan-pertanyaannya pada intrumen bersifat tertutup, analisa statistik dan interpretasi statistik (Cresswell, 2010). Sedangkan dalam penelitian kualitatif, data-data diperoleh melalui wawancara, observasi dokumentasi dan rekaman-rekaman. Data didapatkan melalui pertanyaan terbuka, analisis tekstual dan gambar serta interpretasi terhadap tema-tema atau pola-pola. (Cresswell, 2010).

2.        Menurut Bogdan dan Biklen (1982)
Bogdan dan Biklen (dalam Imron Arifin, 1996; Bogdan dan Biklen, 1982) membandingkan penelitian kualitatif dengan kuantitatif sebagai berikut:
a.         Frase-frase yang berkaitan dengan pendekatan
Penelitian kualitatif dan kuantitatif memiliki perbedaan frase yang terdapat di dalam penelitian itu sendiri. Adapun frase-frase yang digunakan dalam kedua penelitian tersebut:
1)      Frase-frase yang berkaitan dengan penelitian kualitatif sebagai berikut:
a)       Etnografi. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari tentang etnik-etnik suatu bangsa (Imron Arifin, 1996). Etnografi merupakan suatu desain penelitian. Sebagai suatu desain penelitian, etnografi adalah rekonstruksi budaya sekelompok manusia dalam berbagai kancah kehidupan manusia (Preissle-Goetz dan LeCompte dalam Mantja, 1997). George Spindler (dalam Mantja, 1997) mendefinisikan etnografi “...is the field arm of anthropology”. Seorang pakar antropologi tanpa memiliki pengalaman lapangan etnografi, ibaratnya sama seperti seorang ahli bedah yang tidak memiliki pengalaman keklinikan. Spradley (1979; 1980) menyatakan bahwa tujuan utama etnografi adalah untuk memahami pandangan hidup orang lain dari cara pandang pelakunya. Di samping tujuan utama tersebut, etnografi juga merupakan upaya untuk memahami aspek-aspek keaslian dan kewajaran asli (pribumi), hubungan-hubungan mereka dalam semua aspek kehidupan, dan bagaimana mereka menyadari keadaan lingkungannya, serta pandangan mereka terhadap dunia mereka sendiri (Mantja, 1997).
b)      Kerja lapangan. Dalam penelitian kualitatif pada umumnya teori didapat atau dibangun dari bawah, yaitu dari data yang didapat dari lapangan dan pada prinsipnya penelitian lapangan mengutamakan proses daripada hasil karena itu dibutuhkan kerja yang intensif oleh peneliti di lapangan.
c)      Observasi terlibat. Observasi terlibat dimaksud adalah peneliti ikut serta di dalam observasi, peneliti adalah alat dari instrumen penelitian itu sendiri.
d)     Fenomenologis. Fenomenologis merujuk pada suatu aliran pemikiran fenomenologisme. Kaum fenomenolog memandang perilaku manusia – yaitu apa yang dikatakan dan dilakukan orang – sebagai produk dari cara orang tersebut menafsirkan dunianya (Bogdan dan Taylor dalam Furchan, 1992). Penyelidikan fenomenologis bermula dari diam. Keadaan “diam” merupakan upaya untuk menangkap apa yang dipelajari dengan menekankan pada aspek-aspek subyektif dari perilaku manusia. Fenemenolog berusaha untuk bisa masuk ke dalam dunia konseptual subyek penyelidikannya agar dapat memahami bagaimana dan apa makna yang disusun subyek tersebut di sekitar kejadian-kejadian dalam kehidupan kesehari-hariannya (Imron Arifin, 1996). Fenomenologi mengkaji masuk ke dalam dunia makna yang terkonsep dalam diri individu yang kemudian digejalakan dalam bentuk fenomena (Fatchan, 2011).
e)      Data lunak. Data lunak dimaksud data yang diperoleh tanpa terlebih dahulu menentukan kriteria kemutlakan.
f)       Interaksi simbolik. Interaksi simbolis merupakan suatu pendekatan dalam penelitian kualitatif. Sifat yang paling mendasar bagi pendekatan interaksi simbolis adalah asumsi yang menyatakan bahwa pengalaman manusia itu diperoleh dengan perantara interpretasi. Benda (obyek), orang, situasi, dan kejadian tidak akan memiliki maknanya sendiri tanpa diberikan pemaknaan kepada hal-hal tersebut (Imron Arifin, 1996). Menurut Bogdan dan Taylor (1992) benda, orang, situasi, dan kejadian hanya mempunyai makna lewat interpretasi dan definisi orang mengenai hal-hal tersebut.
g)      Perspektif dalam. Perspektif dalam berhubungan dengan pemaknaan terhadap data ditinjau secara subyektif.
h)      Naturalistik. Naturalistik merupakan istilah yang dikemukakan oleh Guba. Naturalistik menunjuk pada penelitian yang dilakukan dalam situasi yang wajar atau natural setting. Naturalistik berakar dalam etnografi dan fenomenologi. Ukuran naturalistik adalah tidak memerlukan kerjasama dari subyek, tidak memebnarkan kesadaran subyek bahwa ia sedang diukur atau diperlakukan dengan suatu cara yang khusus dan tidak merubah gejala yang sedang terjadi (Imron Arifin, 1996).
i)        Etnometodologis. Etnometodologi menunjuk pada pokok persoalan penyelidikan, yaitu cara (metodologi yang digunakan) orang untuk memahami situasi tempat mereka berada. Bagi ahli etnometodologi, arti suatu tindakan selalu tidak jelas (ambiguous) dan merupakan persoalan bagi orang-orang dalam situasi tertentu. Tugas ahli etnometodologi adalah menyelidiki bagaimana cara orang menerapkan kaidah-kaidah abstrak dan pengertian akal sehat dalam berbagai situasi sehingga tindakan tersebut kelihatan rutin, dapat diterangkan dan tidak meragukan (Bogdan dan Taylor (1992). Etnometodologi berarti studi tentang bagaimana individu-individu menciptakan dan memahami kehidupan mereka sehari-hari, seperti cara mereka menyelesaikan pekerjaan di dalam hidup sehari-hari (Imron Arifin, 1996).
j)        Deskriptif. Deskripsi bersinonim dengan kata gambaran. Deskriptif menunjuk pada observasi yang bertujuan menggambarkan keadaan lapangan secara luas dan umum, dengan berusaha melukiskan secara umum situasi sosial dan peristiwa apa yang terjadi dalam penelitian (Imron Arifin, 1996).
k)      Sekolah Chicago. Sekolah Chicago merujuk pada tempat dimana pertama kali para ahli sosiologi mengadakan riset kaulitatif yakni pada tahun 1910 sampai dengan tahun 1940. Pendekatan yang digunakan berupa teknik participant observations. Para sosiologi di sekolah Chicago melakukan studi tentang masalah-masalah sosial seperti kehidupan perkotaan, kenakalan remaja, serta kehidupan imigran dan keluarganya (Fatchan, 2011).
l)        Penelitian kualitatif menyelidiki dokumen-dokumen serta riwayat hidup dan juga fakta-fakta ekologis yang dikemukakan secara deskriptif.
m)    Studi kasus. Studi kasus menurut Denni (Imron Arifin, 1996) merupakan studi yang menguji secara lengkap dan intensif segi-segi, isu-isu, dan peristiwa-peristiwa tentang latar geografi secara berulang-ulang. Kasus tidak hanya terbatas pada orang atau organisasi, tetapi juga batas sistem, program, tanggung jawab, koleksi, atau populasi. Menurut Bogdan dan Biklen (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subyek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu persitwa tertentu. Adapun jenis-jenis studi kasus menurut Bogdan dan Biklen (1982) diklasifikasikan seabagi berikut: studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, studi kasus observasi, studi kasus sejarah hidup, studi kasus kemasyarakatan, studi kasus analisa situasi, dan mikroetnografi.

2)        Frase-frase yang berkaitan dengan penelitian kuantitatif sebagai berikut:
a)        Eksperimen. Eksperimen dimaksud suatu percobaan yang bersistem dan berencana untuk membuktikan kebenaran suatu teori dan sebagainya (http://www.artikata.com). Dalam penelitian kuantitatif tujuan yang hendak dicapai adalah menguji teori.
b)        Data keras. Data keras dimaksud data yang diperoleh dengan terlebih dahulu menentukan kriteria kemutlakan.
c)        Perspektif luar. Perspektif luar berhubungan dengan pemaknaan terhadap data ditinjau secara aspek obyektif.
d)       Empiris. Empiris dimaksud berdasarkan pengalaman terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan yang telah dilakukan (http://www.artikata.com)
e)        Fakta-fakta sosial. Penelitian kualitatif mencoba mencari hubungan yang terjadi dalam fakta-fakta sosial yang ada. Sebagai contoh: apakah ada hubungan antara kepemimpinan dengan motivasi kerja karyawan?
f)         Statistik. Statistik merupakan data yang berupa angka yang dikumpulkan, ditabulasi, digolong-golongkan sehingga dapat memberi informasi yang berarti mengenai suatu masalah atau gejala.

b.        Konsep kunci berkaitan dengan pendekatan
Antara penelitian kualitatif dan kuantitatif ditemukan konsep-konsep kunci yang membedakan kedua jenis penelitian tersebut, yaitu:
1)        Penelitian kualitatif pada prinsipnya mencari dan menemukan makna lewat interpretasi dan pemberian definisi terhadap benda, orang, situasi, dan kejadian yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Makna merupakan pengungkapan asumsi-asumsi yang dimiliki orang mengenai hidupnya. Makna merupakan hal yang paling essensial untuk diungkap dalam penelitian kualitatif. Teknik untuk menafsirkan makna dalam penelitian kualitatif dikenal dengan istilah verstehen (Imron Arifin, 1996). Penelitian kualitatif mengedepankan pemahaman akal sehat agar peristiwa yang terjadi dimengerti dan tidak diragukan lagi. Penelitian kualitatif bermaksud menggolongkan (bracketing), memberi definisi pada situasi yang tengah dihadapi, melihat kehidupan sehari-hari, memberi pemahaman, mengutamakan proses daripada hasil, terdapat tatanan negosiasi, hasilnya untuk maksud praktis, membangun suatu konstruksi sosial.
2)        Penelitian kuantitatif mengandung konsep-konsep kunci yang selalu ada dalam riset tersebut, yaitu:
a)        Variabel. Variabel adalah simbol yang padanya melekat bilangan atau nilai. Variabel juga merupakan sesuatu yang bervariasi atau suatu sifat yang dapat memiliki bermacam nilai (Imron Arifin, 1996). Menurut Wiersma (dalam Wiyono, 2007) variabel penelitian adalah suatu karakteristik yang terjadi pada nilai-nilai atau kondisi yang berbeda untuk individu-individu yang berbeda dari studi penelitian. Johnson dan Christensen menyatakan variabel penelitian adalah kondisi atau karaketristik yang memiliki nilai-nilai atau karakteristik yang berbeda (Wiyono, 2007). Variabel dikembangkan dari teori yang sudah mapan dan menurut Wiersma (dalam Wiyono, 2007) ada enam jenis variabel penelitian, yaitu: variabel bebas, variabel terikat, variabel organismik, variabel intervening, variabel kontrol dan variabel moderator.
b)        Dalam penelitian kauntitatif variabel-variabel yang ada dioperasionalkan untuk memperoleh hubungan yang ada di antara variabel-variabel tersebut.
c)        Reliabilitas. Reliability adalah pengulangan penggunaan suatu instrumen  yang sama (equivalent) kepada unit sasaran yang sama akan membuahkan hasil yang sama (Imron Arifin, 1996). Dalam penelitian kuantitatif, suatu instrumen yang baik bila dilancarkan untuk menguji responden secara berulang-ulang, diharapkan akan memperoleh hasil yang sama. Bila persyaratan tersebut terpenuhi, dapat dikatan memenuhi persyaratan reliabilitas. Dengan kata lain, instrumen tersebut memiliki konsistensi tinggi dan dapat dipercaya (Wiyono, 2007).
d)       Hipotesa. Hipotesis adalah pernyataan dugaan (conjectural) hubungan antara dua variabel atau lebih (Imron Arifin, 1996). Hipotesis penelitian merupakan kesimpulan sementara yang akan diuji dalam penelitian. Hipotesis penelitian memberikan arah penelitian. Hipotesis penelitian memungkinkan peneliti menghubungkan antara teori dengan pengamatan, atau sebaliknya menghubungkan pengamatan dengan teori (Wiyono, 2007). Nasution (2009) mengemukakan bahwa fungsi hipotesis yaitu: menguji kebenaran suatu teori, memberi ide untuk mengembangkan suatu teori, dan memperluas pengetahuan kita mengenai gejala-gejala yang kita pelajari.
e)        Validitas. Validitas adalah ukuran seberapa cermat suatu instrumen melakukan fungsinya. Menurut Wiyono (2007) suatu instrumen dikatakan valid, apabila instrumen itu mengukur apa yang hendak diukur. Misalnya, untuk mengukur partisipasi mahasiswa dalam proses belajar mengajar, maka bukan diukur melalui tes akhir semester secara tertulis, tetapi dilihat melalui kegiatan mahasiswa di kelas, yaitu frekuensi kehadirannya, keterlibatan dalam diskusi kelas, dan sebagainya. Ada empat macam validitas yaitu, validitas isi, validitas konstruk, validitas kriteria, dan validitas butir.
f)         Dalam penelitian kuantitatif, variabel-varibel yang diteliti hendaknya menunjukkan tingkat signifikan secara statistik.

c.         Nama-nama yang berkaitan dengan pendekatan
Penelitian kualitatif dan kuantitatif pada hakekatnya lahir dari pemikiran para ahli yang beraliran postpositivisme-fenomenologisme (kualitatif) dan positivisme-rasionalisme (kuantitatif). Para ahli yang berperan dalam kedua jenis penelitian tersebut, yaitu:
1)        Ahli penelitian kualitatif: Max Weber, Charles Horton Cooley, Harold Garfinkel, Margareth Mead, Anselm Strauss, Eleanor Leacock, Howard S. Becker, Raymont Rist, Estelle Fuchs, Helbert Blumer, W.I. Thomas, Everett Hughes, Erving Goffman, Harry Wolcott, Rosalie Wax, George Herbert Mead, Barney Glaser, Hugh Mehan.
2)        Ahli penelitian kuantitatif: Emile Durkheim, Lee Cronbach, L. Guttman, Gene Glass, Robert Bales, Fred Kerlinger, Edward Thorndike, Fred Mc. Donald, David Krathwohl, Donald Campbell, Peter Rossi.

d.        Afiliasi teoritis
Afiliasi teoritis adalah teori-teori yang memberikan sumbangan penting dalam suatu penelitian. Dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif terdapat perbedaan afiliasi teoritis sebagai berikut:
1)        Afiliasi teoritis untuk penelitian kualitatif yaitu interaksi simbolik, etnometodologis, fenomenologi, kultur/kebudayaan, dan idealisme.
2)        Afiliasi teoritis untuk penelitian kuantitatif yaitu:
a)        Fungsionalisme struktur. Pemikiran structural fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup. Pendekatan structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan sosial. Durkheim seorang pelopor teori fungsionalisme struktur mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan dimana di dalamnya terdapat bagian-bagian yang dibedakan. Bagian-bagian dari sistem tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang membuat sistem menjadi seimbang. Bagian tersebut saling interdependensi satu sama lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem (http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_struktural_fungsional)
b)        Realisme. Penganut realisme beranggapan bahwa kebenaran itu ada pada sesuatu yang riil atau nyata (Jegalus, 2002).
c)        Positivisme. Penganut paham positivisme mencari fakta atau sebab-musabab gejala sosial dengan tidak banyak mempertimbangkan keadaan subyektif individu (Bigdan dan Taylor, 1992). Dalam pandangan positivisme, realitas dapat dipecah menjadi bagian-bagian. Hukum yang berlaku bagi bagian kecil, juga berlaku bagi keseluruhan. Pengalaman bersifat obyektif dan dapat diukur, realitas hanya ada satu, yang mempunyai hukum-hukum dan ciri-ciri tertentu yang dapat diselidiki (Imron Arifin, 1996).
d)       Behaviorisme. Kaum behavioris mengemukakan bahwa perilaku manusia pada hakekatnya dipengaruhi oleh stimulus atau ransangan yang ada.
e)        Emperisme logis. Emperisme logis disebut juga positivisme logis. Emperisme logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali (http://id.wikipedia.org/wiki/Positivisme_logis).
f)         Teori sistem. Teori sistem menyatakan bahwa sistem adalah suatu kesatuan dari berbagai unsur, yang satu sama lain saling berhubungan dan bergantung di dalam mengemban suatu tugas mencapai tujuannya (Mantja, 2011).

e.         Afiliasi akademik
Afiliasi akademik adalah cabang ilmu pengetahuan yang memberi sumabngan besar dalam suatu penelitian. Perbedaan afiliasi akademik antara penelitian kualitatif dengan kuantitatif, yaitu:
1)        Afiliasi akademik untuk penelitian kualitatif yaitu sosiologi, historis, dan antropologi.
2)        Afiliasi akademik untuk penelitian kuantitatif: psikologi, ilmu ekonomi, sosiologi, ilmu politik.


f.         Tujuan
Perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif dapat dilihat pada tujuan yang hendak dicapai oleh kedua jenis penelitian tersebut. Adapun tujuan yang hedak dicapai:
1)        Penelitian kualitatif: mengembangkan konsep pensensitif (sensitizing), mendeskripsikan realitas yang terdiri atas berbagai segi, menemukan teori grounded, dan mengembangkan pemahaman.
2)        Penelitian kuantitatif: menguji teori, membentuk fakta, deskripsi statistik, menunjukkan hubungan antar variabel, dan membuat prediksi.

g.        Desain
Desain penelitian yang terdapat pada penelitian kualitatif pada hakekatnya berbeda dengan desain penelitian yang terdapat pada penelitian kuantitatif. Adapun perbedaan desain dari kedua jenis penelitian sebagai berikut:
1)      Penelitian kualitatif: berkembang, lentur, rampat (umum) dan desain memberikan firasat bagaimana peneliti harus melangkah.
2)      Penelitian kuantitatif: struktur, ditetapkan terlebih dahulu, formal, spesifik dan desain yang dibuat merupakan rencana operasi kerja yang rinci.

h.        Menulis proposal penelitian
Langkah awal suatu penelitian adalah dengan menulis proposal. Ada perbedaan bentuk penulisan proposal penelitian kualitatif dan kuantitatif, yaitu:
1)        Penelitian kualitatif: singkat, spekulatif, menunjukkan bidang yang relevan untuk diteliti, ditulis setelah ada data terkumpul, dan tinjauan pustaka yang substantif tidak panjang lebar.
2)        Penelitian kuantitatif: panjang lebar, fokus rinci dan spesifik, prosedur rinci dan spesifik, melalui tinjauan pustaka yang substantif, prioritas penulisan pada pengumpulan data, hipotesa dinyatakan.

i.          Data
Data yang diperoleh dan dipaparkan antara penelitian kualitatif dengan kuantitatif memiliki perbedaan sebagai berikut:
1)        Data pada penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan bersumber dari dukumen pribadi, catatan lapangan, kata-kata orang sendiri, dokumen resmi dan artefak, dan foto.
2)        Data pada penelitian kuantitatif bersifat kuantitatif dan bersumber dari koding yang dapat dikuantifikasi, variabel operasional, statistik, bilangan, dan ukuran.

j.          Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diamati (Wiyono, 2007). Jenis sampel yang digunakan dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif terdapat perbedaan, yaitu:
1)        Sampel pada penelitian kualitatif yaitu kecil karena menyelidiki kasus tertentu, nonrepresentatif, sampling teoritis. Biasanya sampel yang banya digunakan dalam penelitian kualitatif adalah “snow ball sampling”. Kriteria sampel didasarkan pada kadar kualitasnya, antara lain subyek yang memahami masalah secara akurat, memiliki waktu, bersedia dan bisa menyampaikan informasi secara baik (Bogdan dan Biklen, 1982). Dalam penelitian kualitatif keterwakilan sampling bukan didasarkan pada populasi, melainkan terhadap informasi, sehingga dikenal sampling bertujuan (purposive sampling) dan sampling internal (internal sampling) (Imron Arifin, 1996).
2)        Sampel pada penelitian kuantitatif yaitu besar, berstrata, ada kelompok kontrol, dipilih secara random atau acak, kontrol untuk variabel luar, tepat/cermat (precise). Dalam penelitian kuantitatif sampling berarti pengambilan sesuatu bagian dari populasi atau semesta sebagai wakil (representative) terhadap populasi (Imron Arifin, 1996). Terdapat tujuh jenis sampling yang digunakan dalam penelitian kuantitatif, yaitu: random sampling, stratified sampling, proportional sampling, cluster sampling, area sampling, purposive sampling, dan quota sampling.
k.        Teknik atau metode
Adapun teknik atau metode dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif adalah sebagai berikut:
1)        Teknik dan metode yang digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi, tinjauan berbagai dokumen dan artefak, wawancara terbuka (opended interview), dan observasi partisipasi.
2)        Teknik dan metode yang digunakan dalam penelitian kuantitatif, yaitu eksperimen, penelitian survey, wawancara terstruktur, kuasi eksperimen, observasi terstruktur, dan himpunan data.

l.          Hubungan peneliti dengan subyek
Hubungan peneliti dengan subyek penelitian dalam penelitian kualitatif dengan kuantitif memiliki makna dan tujuan yang berbeda. Adapun hubungan antara peneliti dengan subyek dalam kedua penelitian tersebut, yaitu:
1)        Hubungan peneliti dengan subyek dalam penelitian kualitatif, yaitu empati, akrab, hubungan rapat, menekankan kepercayaan subyek sebagai sahabat, persamaan.
2)        Hubungan peneliti dengan subyek dalam penelitian kuantitatif, yaitu ada pembatasan, jangka pendek, tidak tinggal bersama, ada jarak antara subyek dan peneliti.
m.      Instrumen dan alat
Instrumen dan alat yang digunakan dalam penelitian kualitatif dengan kuantitatif memiliki perbedaan, yaitu:
1)        Instrumen dan alat yang digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu tape recorder, peneliti sering merupakan satu-satunya instrumen, dan transkrip.
2)        Instrumen dan alat yang digunakan dalam penelitian kuantitatif, yaitu inventori, angket, indeks, komputer, skala, dan skor tes.
n.        Analisa data
Analisa data dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif memiliki dasar dan jangka waktu yang berbeda, yaitu:
1)        Analisa data dalam penelitian kualitatif adalah berkelanjutan, model, tema, konsep, induktif, induksi analitis, dan metode komparatif konstan.
2)        Analisa data dalam penelitian kuantitatif adalah deduktif, dikerjakan selesai pengumpulan data, dan statistik.
o.        Masalah dalam penggunaan pendekatan
Penelitian kualitatif dan kuantitatif memiliki masalah dan keterbatasan sebagai berikut:
1)        Masalah yang ditemukan dalam penggunaan penelitian kualitatif: memakan waktu, sulit mereduksi data, prosedur tidak baku, dan sulit melakukan studi pada populasi yang jumlahnya besar.
2)        Masalah yang ditemukan dalam penggunaan penelitian kuantitatif: mengontrol variabel lain, reifikasi (reification), sifat memaksa, dan validitas.